A note on healthy living

Siang tadi tiba-tiba terlintas ide begini:  seru juga ya jika suatu keluarga memiliki kesepakatan tentang “healty living”/kesepakan tentang gaya hidup sehat.   Terutama untuk orangtua, karena jika healty living habbit sudah diterapkan pada kedua orang tua (dan keduanya telah sepakat untuk menjalankan itu), maka insyaAllah lebih mudah bagi anak untuk mengikuti pola hidup sehat. Harapannya ke depannya anak pun akan terbiasa dengan pola tersebut.

Kenapa perlu kesepakatan? Karena kedua orang tua pada hakikatnya berasal dari dua keluarga berbeda. Dan gaya hidup sehat keduanya sebelum menikah pun mungkin tidak sama. Ada yang keluarganya tidak membolehkan makan mie instan misalnya.. ada juga yang oke-oke aja atau dibatasi sekian dan sekian.  Ada yang terbiasa jalan pagi sepekan sekali misalnya, ada yang untuk urusan olahraga tidak terlalu diatur.. Ada yang setiap hari harus makan sayur-sayuran dengan porsi yang banyak, dan lain sebagainya..

Biasanya kita menilai tingkat kepentingan sesuatu hal, sesuai dengan bagaimana dulu kita dibiasakan dengan hal itu. Karena itulah kesepakatan antar ayah bunda jadi penting. Bila dulu ayah dibiasakan “no instant noodle at all”, maka di dalam diri ayah akan tertanam bahwa mie instant merupakan bahaya tingkat tinggi bagi kesehatan, dan adalah penting untuk membatasi (atau bahkan melenyapkan) konsumsinya. Nah, susah kan kalau dulu bunda di keluarganya tidak dilarang-larang soal mie instan… hingga akhirnya bunda kadung menjadi penggemar makanan tersebut. Perlu ada kesepakatan soal ini.. bayangkan kalau ayah nanti dengan penuh kesungguhan melarang anak makan mie instan eh tapi bundanya malah ngemil makanan itu. Kasihan anak bisa bingung.. ^^

Nah, sekarang saya ingin mengingat-ingat apa saja gaya hidup sehat yang telah ditanamkan kedua orang tua dahulu, serta dari apa yang telah saya baca/yakini sebelum ini:

  • Bangun pagi, minum segelas air (bila tidak shaum). Sebaiknya air hangat, dengan diberi sedikit perasan jeruk (nipis/lemon).
  • Pagi hari awali dengan buah-buahan. Kalau menurut teori food-combining bahkan, sarapan itu dengan buah…  sampai jam 11an pagi, setelah itu baru boleh makan berat. Food combining ini pernah coba diterapkan dan berhasil selama kurang lebih setahun.. tapi setelah itu tidak lanjut lagi dan salah satu yang paling berat karena sarapannya harus buah ^^’ soalnya pagi teh yahh perut teh kurucuk.. kurucukkk pisan.. Jadi kita beralih ke madzhab Hiromi Shinya..hehe.. makan buah  itu satu jam sebelum makan berat.. yang jadi bottomline nya sih ini sebetulnya: bahwa makan buah itu sebaiknya sebelum makan, bukan sesudah makan.
  • Minum air sebelum makan bisa mencegah kita makan berlebihan.
  • Tidak minum ketika sedang makan, kecuali bila memang perlu.
  • Makan sayuran dengan porsi yang cukup. Kalau menurut Ibu saya (seperti dikutip dari Shinya), sayuran dan buah-buahan itu seharusnya porsinya 50% dari total konsumsi harian kita.
  • No instant noodles kecuali kepepet atau kepengen banget (lah*), dan pastikan mie instan telah di-upgrade minimal dengan sayuran dan telur :9
  • Batasi minuman manis: teh manis, kopi dengan gula, jus dengan tambahan gula,  hot choco (huhu T.T), dsb.
  • Jangan lupa juga prinsip sepertiga sepertiga sepertiga dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam
  • Tidur cukup. Cukup itu seberapa lama? setiap orang mungkin bisa berbeda. Yang ngga kalah penting, tidur tidak terlalu larut supaya bangun subuh ngga kesiangan.hehe
  • Batasi penggunaan gadget (kalau ini baru-baru aja saya tahu ternyata gadget bisa berbahaya utk kesehatan, tapi lebih ke arah mental sih, masih perlu dielaborasi lagi)

Sementara ini dulu. Postingan ini akan saya update bila teringat kembali sesuatu yang bisa diinputkan ke list di atas.

Disclaimer: Tentu tidak semua nilai-nilai di atas bisa diterapkan ke anak-anak ya. Ini sekedar catatan sebagai langkah awal sebelum terjadinya tawar-menawar dan kesepakatan (maapkeun bahasanya hihi).

Noda di kain putih

Akan lebih nampak daripada noda di kain hitam..

Pertanyaannya kemudian..

Apakah kita akan mencuci noda itu.. atau memakinya karena kainnya putih..

Bila ia dimaki karena putih.. apakah kemudian ia lebih baik dicelupkan saja ke dalam tinta hitam…. aku berharap tidak demikian

Seringkali orang2 yg dekat dengan agama dicaci karena satu dua hal yg nampak yang ia lakukan salah..

Bila karena hal2 yang memang jelas melanggar…seperti korupsi penipuan dll.. maka mungkin orang itu sebenernya kain hitam yg awalnya terekspos bagian putihnya saja.. atau yg terpoles seolah putih tp aslinya dalamnya hitam….

Namun bagi orang2 yang berusaha menjaga akhlaknya tetapi belum berhasil dan seringkali masih terbawa hawa nafsunya.. dengan marah, dengan meluapkan emosi berlebihan, mengumpat2..

Maka ia mungkin adalah kain putih yg masih bernoda..

Janganlah kita mencacinya karena ia putih.. kok udah berjilbab lebar kelakuan masih jelek.. dsb..
Tp ingatkan saja dan jangan salahkan jilbabnya.. huhu

Yang sedang berusaha menjadi putih pun demikian.. bersungguhlah berusaha menghapus noda-noda yang pasti ada..
Entah nampak di mata manusia ataupun tidak..
Dan jangan lekas merasa cukup dengan kebaikan yang sudah dilakukan..

Teruslah berusaha memperbaiki akhlak.. resapkan nilai2 itu ke dalam hati..
Dan teruslah berdoa memohon padaNya keselamatan dalam bertindak dan berucap..

His first vocabs

alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimush shaalihaat..

My little one is now 14 month old, and he is having his first steps towards freedom. Alhamdulillah.. His vocabulary is also increasing.. now I want to memorize some of them.. let me count every word as a blessing.. alhamdulillah..

When Luthfan says : he means,

am” : mamam or minum

“ma” or “mama” : mimik

“dada” : bunda

“ay” : ayah

“ay” : hi!

“aai” : air

“ayn” : angin

“aub” : labu siam (his fav food ^^)

“ates” : atas

“nana” : nenek

“aik” : aki

“enah” : enin

“papa” : popok

“peppa” : pepaya

“anana” : banana

“ba” : obat, sambil garuk2 punggung ^^

“ta” : buka

“ema” : bi May

“ema” : Meng..meng..meng (manggil kucing)

“an” : handuk

“an” : naik (saya mau naik ke atas)