Buung apa?

Siang ini setelah bangun tidur Luthfan terus tanya sama bundanya ini burung apa namanya..

Burung apa ini?
Burung apa ini?

 

Apa ya nak.. waduh..

Coba search by image di google ternyata belum bisa dr mobile phone ya.. berhubung skrg laptop udh lemot sangat.. yah kita coba upload saja gambarnya lalu coba enter url di google image.. (atau ternyata bisa jg dengan di klik lama image nya dan pilih opsi search this image on google)

Oh ternyata namanya burung Tukan.. hihi.. thanks google although I didn’t expect it will take a longer time to search by image on phone.. ^^

Iklan

Aliran Rasa

Pekan demi pekan telah berlalu

Menata diri, menata hati, menentukan arah, merancang perjalanan

Dalam bahtera keluarga yang telah terlepas sauhnya

Mengarungi samudera kehidupan

Dengan satu tuju: keridhaan-Nya

 

Jalanku dan jalanmu mungkin tak sama

Misi-Nya di pundak kita semua mungkin unik satu dan lainnya

 

Namun kesungguhanlah

Dalam mencoba memahami, membaca, merenungi potensi diri untuk memberi yang terbaik

Dalam menjalankan peran utama yang telah tersemat di diri, bersungguh-sungguh di dalam

Untuk kemudian mewujudkan kebermanfaatan yang terindera sesama

 

Itulah yang mungkin sama

Dari keunikan jalan kita

 

Menapaki kemuliaan hidup dan bukan mengaisi hal pasti

Memaknai kemuliaan dengan kebermanfaatan

Yang dimulai dari dalam

 

Sembilan pekan berlalu

Semoga yang telah tertuliskan

Dapat diselaraskan dalam tindak nyata

Yang mewarnai keseharian kita dengan makna

 

Freiburg, 4 Agustus 2017

Ummu Luthfan

 

***

“Sedikit” curhat..

Perjalanan sembilan pekan MIIP batch #4 beriringan dengan perjuangan menuntaskan status LDR antara saya (+anak) dengan suami. Suami sedang menempuh studi doktoral di Jerman sementara saya masih mempersiapkan pengurusan visa. Alhamdulillah dalam tiga pekan terakhir kami telah berkumpul kembali memulai bab baru dalam keluarga kecil kami.

Saya menyadari bahwa antar NHW saya setiap pekannya mungkin belum bisa ditarik benang merah yang jelas. Namun saya tahu perbekalan dari NHWs merupakan kenang2an yang akan bermanfaat jangka panjang dalam konteks kehidupan berkeluarga.

Ingin rasanya me-review ulang semua langkah setiap pekannya untuk lebih merenung, dengan mengajak serta khalifah keluarga kami. Mengutip bait-bait makna dari buku “the secret of Enlightening Parenting”: bahwa dalam perusahaan besar saja terdapat visi, misi, serta stratego yang jelas, mengapa dalam elemen terkecil pembangun peradaban semua itu tidak disusun dengan sebaik itu sedari awal. Konon katanya gagal merencanakan sama dengan merencanakan gagal. Maka mari (teman hidupku..) kita duduk sejenak, ditemani secangkir teh atau kopi, lalu berbicara tentang ini semua.. semoga apa yang dicita-citakan benar-benar dapat mewujud dalam tindak nyata. Aamin..

Serangkaian curhat dan brainstorming saya dalam membuat NHWs MIIP ini tercatat sedikit di  dalam blog ini diantaranya: pekan ke-4,  pekan ke-5, pekan ke-8, dan akhirnya tulisan ini merangkum segenap aliran rasa.

Semoga ilmu yang didapat dapat menjadi ilmu yang bermanfaat dan semoga  bisa berlanjut ke tahap berikutnya dengan konsisten.

Aamin..

Terima kasih IIP 🙂

 

Brainstorming pekan kedelapan

Alhamdulillah kelas matrikulasi IIP sudah di pekan ke-8. Materinya kini tentang bunda produktif. Sedikit review tentang materi sebelum mengerjakan NHW 8 saya. Pekan yang lalu kami belajar satu hal penting bahwa,

“Rezeki itu pasti, kemuliaan yang harus dicari”

Bila bertanya-tanya kemuliaan itu seperti apa, mungkin quote favorit ini bisa menjadi jawabannya..

16700663_10210549587209794_7488535457516779183_o

Jadi, merujuk pada materi pekan lalu maka ukuran produktivitas bukanlah dengan seberapa banyak penghasilan yang kita peroleh, tetapi lebih kepada nilai hidup dan keberkahan dari apa yang kita coba usahakan.

Pekan ini kami diminta menuangkan lebih jauh definisi produktivitas ala kami sendiri, pada ranah apa kami ingin menuangkan kesungguhan hati. Tak lupa membuat perencanaannya yang lebih strategis.

Di pekan ini kami belajar tentang tagline IIP,

“Be Profesional, Rezeki will follow”

Dengan makna profesionalitas adalah kesungguh-sungguhan dalam menjalankan peran. Dan rezeki adalah hal yang sudah dijamin, sehingga yang kita cari lebih kepada keberkahan rezeki tersebut serta kebermanfaatannya..

×××

Pekan lalu kami diminta untuk mengerjakan semacam kuisioner untuk menemukan potensi diri yang dikenal dengan ST-30 (tes kuis ST-30 di sini) dan diminta untuk membuat kuadran pekerjaan SUKA – BISA.

Adapun tugas pekan ini adalah untuk mengambil satu ranah dari kuadran SUKA dan BISA, kemudian menjawab 3 hal penting tentangnya:

× what do we want to be

× what do we want to do

× what do we want to have

Serta mendeskripsikannya dalam strategic planning visi jangka panjang, jangka menengah, dan jangka pendek.

 

×××

So.. now what should I choose from my first SUKA-BISA quadrant?

Still no idea actually..

Mungkin karena saya tipe yang ketika diberi suatu tugas mencoba mengerjakannya dengan sungguh2, suka ataupun tidak suka dengan tugas tsb. Dan alhamdulillah bila sungguh-sungguh hasil pekerjaan itu biasanya lumayan lah kalau tidak bagus. Dan ketika berhasil selalu ada perasaan senang.. dan selalu terbit rasa tidak suka ketika menghadapi kesulitan dalam hal apapun… sehingga sebenarnya mana yang saya suka? Which one is my true passion? Hihi.. balik lagi deh ke peer pekan kemarin.. mungkin saya perlu berpikir lagi dalam mengisi kuadran NHW #7..

Belum lagi bila kita sudah cenderung ada dalam bidang tertentu dan terbiasa dengannya ya.. semakin biasa, semakin bisa.. tapi apakah itu benar2 panggilan hati yang dinikmati? Itu saya rasa yg jadi pertanyaan.. karena ketika kita telah terbiasa dengan sesuatu, mencoba keluar darinya dan menemukan hal baru bukanlah hal mudah.. it’s always challenging to go beyond our comfort zone..

and I start to wonder isn’t it OK to just being passionate in what we’re doing regardless of the term ‘true passion”? Lah ^^’

Jadi saya coba kembali ke titik sebelumnya tentang definisi kemuliaan hidup.. berdasarkan quote favorite dari buku surat-surat cinta poinnya adalah..

× ilmu yang bermanfaat

× amal shalih

× akhlak mulia

× hubungan dengan Allah

× manfaat yang diberikan kepada manusia

Poin2 ini menurut saya dapat dijadikan frame dalam menjawab tiga pertanyaan (be, do, have) di atas. Satu poin lagi adalah menilik kembali definisi profesionalitas: “kesungguhan dalam menjalankan peran”.

Oh ya, dulu saya sempat bingung kenapa setelah ikut matrikulasi IIP ini saya malah merasa didorong untuk bekerja di ranah publik.. dan merasa seperti mengikuti training motivasi (selengkapnya di sini).. setelah di pekan 8 ini maka kebingungan itu cukup tercerahkan, bahwa (sepemahaman saya): Ibu Profesional memiliki 3 tahapan yang ketiganya penting: bunda sayang, bunda cekatan, dan bunda produktif.. di mana kita harus selesai (i.e. profesional) di dua tahapan sebelumnya untuk kemudian melangkah ke tahap bunda produktif, which is berkaitan dengan pemanfaatan potensi diri untuk meraih kemuliaan yang disebutkan sebelumnya.

Berhubung saya baru saja nyemplung kepada kenyataan kehidupan berkeluarga yang sesungguhnya setelah sebelumnya ber-LDR dengan suami ^^, sejujurnya saat ini saya masih agak blank bila diminta menyusun tahap produktivitas yang ingin dicapai.  Ini karena saya merasa di dua tahap yang sebelumnya masih berantakan dan masih harus banyak belajar.

×××

Jadi.. demikianlah brainstorming yang lumayan panjang.. sedangkan NHW nya sendiri tetap bersifat privat hanya diposting di kelas he…he…

*** semangat ***

 

Empat Pekan Berlalu dan Aku Masih Kelu

Siapa di sini yang nanti mau full menjadi Ibu Rumah Tangga?”

Kurang lebih demikian pertanyaan ibu Dosen di salah satu mata kuliah minor Perkembangan Anak yang pernah saya ikuti semasa kuliah sarjana dulu.

Dan saya (tanpa berpikir panjang-panjang) menjadi salah satu dari sedikit mahasiswi yang mengacungkan tangan.

***

Sejak mula cita-citaku sederhana: menjadi muslimah perhiasan terbaik dunia. Yang shalatnya, shaumnya, dan baktinya pada suami telah cukup mengantarkannya ke pintu surga manapun yang ia pinta.

Karenanya, dalam pikiranku sederhana saja. Bila telah cukup baktiku di rumah, untuk apa mencari yang lain di luar sana? apalagi dengan mempertaruhkan keberhasilan dari apa yang jelas-jelas menjadi pintu amalku, dengan berkurangnya waktu.

Tanpa melihat latar belakang diri. Dididik dan dibesarkan dalam keluarga yang menjunjung tinggi pendidikan, oleh dua matahari dengan gelar pendidikan formal tertinggi. Yang aku tahu itu  telah mereka gapai dengan penuh peluh perjuangan. Di mana tantangannya jauh lebih berat dibandingkan apa yang telah aku lalui, berkat peluh mereka jua.  Dengan menebal-nebalkan telinga dari segenap ucap rekan dan kolega, akan sayangnya ijazah dengan hiasan A lurus di sejumlah bilangan semesternya tersimpan rapih tak tersentuh.

Namun pikirku, ini hidupku, jalan pilihanku.. Dan aku yang kelak akan mempertanggung jawabkannya di depan Penciptaku…

…Ia Yang juga telah memilihkan bagiku di keluarga mana aku dilahirkan, dengan siapa aku mengarungi bahtera rumah tangga, dan kapan aku kembali menghadap-Nya..

***

Berbekal pemikiran itulah saya bertekad ingin menjadi Ibu Rumah Tangga Profesional. Yang meski tinggal di rumah ia tetap profesional, i.e. profesional sebagai seorang Ibu. Itulah juga yang mendasari aku mengikuti kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional yang baru bisa aku ikuti di batch ke-empat ini.

Tapi percaya atau tidak, selama 4 pekan pertama ini mengikuti kelas matrikulasi (untuk pemula ^^), saya malah dibuat bingung. Saya pikir saya akan belajar tentang “bagaimana mengerjakan pekerjaan rumah tangga dengan profesional, menjalani peran sebagai ibu dan istri secara profesional”.  Namun rupanya semua sangat di luar dugaan.  Di kelas matrikulasi ini, di titik awal sebelum semua pelajaran dimulai, saya malah diberi banyak peer untuk merenung. Tentang apa?

Tentang potensi diri, tentang apa yang ingin saya pelajari dalam hidup ini, tentang passion, tentang apa yang ingin saya capai dalam hidup ini sebagai diri dan sebagai keluarga, tentang apa yang ingin saya kontribusikan, sebagai diri dan sebagai keluarga, agar menjadi sosok/keluarga yang bermanfaat bukan hanya untuk diri sendiri (dan keluarga) tapi juga bagi masyarakat secara lebih luas.

Di empat pekan pertama ini saya malah merasa masuk jurusan “training motivasi”. Dimana kita diminta menentukan mimpi dan target, ingin menekuni bidang apa.. Diminta merenung, langkah apa yang harus dicicil setiap hari untuk mencapai target profesionalitas yang kita definisikan sendiri.. Diminta memikirkan apa sebenarnya pesan Sang Pencipta telah memasangkan diri dengan pasangan, merenungi potensi diri dan pasangan serta anak-anak dalam membangun pondasi peradaban. Dan di pekan ini diminta untuk membuat milestone semuanya secara lebih konkrit untuk dijalankan.

Berat rasa di hati, mengingat semuanya masih samar untukku. Mengingat pemikiran sederhanaku tempo hari itu. Apalagi bila lirik kanan kiri, rekan-rekan sekelas yang jurusan hidupnya rasanya telah mumpuni ^^. Bagi saya semua ini rasanya masih abstrak, saya masih meraba-raba dan belum mengerti sepenuhnya.

Tapi entah mengapa, dengan berbagai perenungan di empat pekan pertama ini, saya malah merasa saya didorong untuk menjadi “Ibu Profesional yang bekerja di ranah publik”.  Oia di IIP ini dijelaskan bahwa sebenarnya tidak ada istilah Ibu Rumah Tangga dan Ibu Bekerja. Yang ada adalah Ibu profesional yang bekerja di ranah domestik, dan Ibu profesional yang bekerja di ranah publik.

Tidak pernah terpikirkan sebelumnya untuk merenungi pesan apa yang ingin disampaikan Sang Pencipta telah melahirkanku di tengah-tengah keluargaku sekarang, telah menyandingkanku dengan pasangan hidupku sekarang.. dan bahwa dengan itu semua ada kebermanfaatan yang bisa diberikan. Singkat cerita, saya merasa semua pemikiran sederhana saya sebelum ini mulai tergoyahkan.

 

Namun haruskah galau kemudian?

***

Pertama ditulis pada 09.06.2017

아직끼지 답을 못함

NHW #5: Learning to Design a Learning Design

Mind Map Materi Pekan ke-5 MIIP
Mind Map Materi Pekan ke-5 MIIP

Saat membaca judul materi pekan ini (yang saya rangkum dalam mind map di atas), saya tersenyum-senyum. Ehh judulnya sama seperti mata kuliah online yang pernah saya ambil (mata kuliah “Learning How to Learn”). Tapi di kuliah itu seingat saya yang dipelajari lebih tentang teknik belajar untuk menguasai mata pelajaran yang kita anggap sulit. Beberapa hal dari kuliah tersebut (yang masih saya ingat) juga saya coba masukkan dalam desain pembelajaran ala saya.

Berikut usulan desain pembelajaran ala saya yang terangkum dalam gambar di bawah ini:

My Learning Design: Dari Awam Menuju Paham
My Learning Design: Dari Awam Menuju Paham

Tahap 1: Pendahuluan

Semua diawali dengan niat, perbaiki niat saat mulai belajar. Bahwa yang akan dilakukan ini semoga kelak menjadi ilmu yang bermanfaat. Baik untuk urusan dunia ataupun akhirat.

Setelahnya, mulai munculkan minat dan ketertarikan terhadap subjek yang akan dipelajari. Ingat kembali pelajaran MIIP pekan ini bahwa yang lebih penting adalah “sukanya” baru kemudian “bisa-nya”.

Memunculkan minat dapat dilakukan dengan menggali pertanyaan tentang bagaimana subjek tersebut dapat membuat pembelajar tertarik. Misalnya, mengapa subjek tersebut dapat bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari/bagi agama? Apa contoh konkrit pemanfaaan/aplikasinya yang bisa saya lihat langsung? Hal-hal “keren” apa yang bisa dilakukan jika sang pembelajar berhasil menguasai topik ini?

Tahap 2:  Core Theory

Ini merupakan tahap inti pembelajaran di mana pembelajar secara aktif “mencari” dan tidak sekedar mendengarkan. Berikut beberapa catatan dan learning tools yang dapat digunakan untuk membantu pembelajar dalam tahap ini:

1.  Belajar dengan mencicil. Belajar sesuai “Bite-Size” pembelajar.  
Bagi-bagi subjek pembelajaran menjadi bagian-bagian kecil. Kemudian bagi lagi menjadi “bite-size chunks” untuk setiap satu kali belajar (satu kali gigit-kunyah-telan).

2. Ikatlah ilmu dengan tulisan.
Mencatat membantu kita membuat titian ingatan. Demikian pula bila sedang pasif mendengarkan, terkadang ada hal-hal penting  yang dijelaskan oleh guru yang tidak terdapat dalam buku teks sehingga sangat penting bagi kita untuk mencatatnya. Mencatat juga diperlukan saat praktik. Contoh sederhananya saat mempraktikkan suatu resep masakan, seringkali tidak dijelaskan hal-hal sederhana seperti berapa lama menumis, apakah dengan api kecil sedang atau besar, dll.. saat praktik, mencatat dapat membantu kita menjalankan resep itu dengan lebih baik di kesempatan yang lain.

3. Menggunakan mind-map dalam membentuk struktur berpikir.
Mind-map dapat membantu kita untuk melihat gambaran holistik hal yang sedang dipelajari.  Berikut sedikit ulasan tentang apa itu mind map dan bagaimana cara membuatnya.

4.  Menggunakan Teknik Pomodoro untuk membantu  diri tetap fokus.
Teknik Pomodoro, adalah satu teknik manajemen waktu menggunakan timer di mana pekerjaan (dalam hal ini belajar) dibagi menjadi interval di mana ada saatnya kita fokus dan ada saatnya beristirahat.  Misalnya,  kita tetapkan waktu untuk fokus selama 25 menit, dan setelahnya beristirahat selama 5 menit. Maka kita set waktu timer 25 menit, dan selama 25 menit tersebut kita harus fokus pada pekerjaan. Tidak boleh lihat hp, mengecek email, membalas sms, dll.. pokoknya fokus dengan pekerjaan/belajar kita. Barulah setelah alarm berbunyi kita memiliki waktu istirahat (yang tidak terlalu lama, misal 5 menit) untuk melakukan hal lain di luar pekerjaan.  Dan setelah waktu istirahat habis, kita mulai lagi sesi pomodoro kedua, 25 menit fokus, 5 menit istirahat.. begitu seterusnya selama satu hari..

Saya telah mencoba menerapkan teknik ini saat menyelesaikan tesis, dan alhamdulillah meski dalam sehari hanya “berhasil” menyelesaikan 6 sesi pomodoro, saya rasa hasil kerjanya lebih lumayan dibandingkan kerja tanpa direncanakan waktu fokus-istirahatnya. Dan pembagian waktu 25-atau 5-menitnya itu dapat disesuaikan dengan kemampuan kita. Misalnya waktu 25 menit terlalu lama bagi kita untuk bisa fokus, maka boleh diawali dengan 20 menit dulu baru 5 menit istirahat. Namun gunakan timer agar lebih disiplin dalam menjalankannya. Selengkapnya tentang teknik Pomodoro.

5. Tidak lupa refreshing dan istirahat 
Menurut kuliah online yang saya ikuti tersebut, istirahat saat belajar sangat penting agar materi yang telah kita pelajari bisa tersambungkan sinaps-nya dengan hal terkait/tersimpan di dalam otak/memori.  Ketika tidur/beristirahat otak kita memproses apa yang telah sebelumnya kita pelajari. Jadi, belajar non-stop atau metode SKS dalam belajar sebetulnya cara belajar yang tidak efektif. Kalau sudah ngantuk/bosan belajar ya tidur/istirahat saja. Percayalah bahwa selama kita istirahat itu ada materi yang diproses di dalam otak (mungkin asal ngga kebanyakan juga ya materinya hehe). Dan setelah beristirahat juga biasanya otak lebih fresh dan lebih siap menerima materi yang baru.

Tahap 3: Practice

Latihan itu penting. Biasanya praktek itu lebih sulit ya daripada teorinya. Sekali praktik biasanya tidak langsung berhasil. Bila belum berhasil, maka kita bisa kembali ke tahap 3, belajar lagi, mencatat apa yang keliru, lalu kemudian praktik lagi :).  Disebutkan juga dalam kuliah online itu bahwa “practice makes permanent“. Praktik membantu apa yang sudah dipelajari untuk lebih menempel di ingatan.

Tahap 4: Evaluate

Evaluasi dalam dilakukan dalam bentuk test, produk akhir, atau presentasi. Omong-omong soal presentasi, presentasi ini adalah salah satu alat ukur dalam mengetahui apakah kita telah memahami suatu hal.. Dulu saya pernah membaca satu pertanyaan yang menarik,

“Bagaimana caranya Anda mengetahui bahwa Anda telah benar-benar memahami suatu hal?”

Teringat ketika SMA dulu, saya pernah mengatakan kepada teman sebangku bahwa saya telah paham satu bagian pelajaran.. namun kawan sebangkuku yang pandai itu tak begitu saja “merasa paham”.  Kemudian ia bertanya ini-itu tentang pelajaran tersebut kepada saya, sementara saya terbata-bata mencoba menjelaskan dengan penjelasan yang samar.. Akhirnya saya hanya mematung melihatnya cas-cis-cus mengungkapkan pertanyaannya… dan barulah saya sadar…

Ooo rupanya saya belum benar-benar paham… ^^

Jadi, bagaimana caranya kita tahu kalau kita telah benar-benar paham?

“Coba jelaskan hal tersebut kepada orang lain yang belum tahu apa-apa tentangnya. Atau bahkan kepada anak kecil..”

Demikian yang pernah saya baca.

Terkadang kita merasa telah memahami sesuatu, namun berapa persen sesungguhnya yang telah kita pahami? terkadang ketika mencoba menjelaskannya kembali rasanya sulit mengeluarkan kata-kata. Mungkin saat itu kita belum benar-benar paham dan baru mengetahui sekian persennya (masih dangkal).

Hal ini selaras dengan cemilan Rabu dari kelas MIIP pekan ke-5..

Piramida Belajar
Piramida Belajar

We learn the most from what we teach to others. Karenanya presentasi atau menjelaskan kembali apa yang telah dipelajari menurut saya adalah sebuah bagian yang penting dalam sebuah desain pembelajaran.

***

Demikian desain pembelajaran yang coba saya susun dari apa yang telah saya dapatkan/lakukan sebelum ini. Semoga bermanfaat.