NHW #5: Learning to Design a Learning Design

Mind Map Materi Pekan ke-5 MIIP
Mind Map Materi Pekan ke-5 MIIP

Saat membaca judul materi pekan ini (yang saya rangkum dalam mind map di atas), saya tersenyum-senyum. Ehh judulnya sama seperti mata kuliah online yang pernah saya ambil (mata kuliah “Learning How to Learn”). Tapi di kuliah itu seingat saya yang dipelajari lebih tentang teknik belajar untuk menguasai mata pelajaran yang kita anggap sulit. Beberapa hal dari kuliah tersebut (yang masih saya ingat) juga saya coba masukkan dalam desain pembelajaran ala saya.

Berikut usulan desain pembelajaran ala saya yang terangkum dalam gambar di bawah ini:

My Learning Design: Dari Awam Menuju Paham
My Learning Design: Dari Awam Menuju Paham

Tahap 1: Pendahuluan

Semua diawali dengan niat, perbaiki niat saat mulai belajar. Bahwa yang akan dilakukan ini semoga kelak menjadi ilmu yang bermanfaat. Baik untuk urusan dunia ataupun akhirat.

Setelahnya, mulai munculkan minat dan ketertarikan terhadap subjek yang akan dipelajari. Ingat kembali pelajaran MIIP pekan ini bahwa yang lebih penting adalah “sukanya” baru kemudian “bisa-nya”.

Memunculkan minat dapat dilakukan dengan menggali pertanyaan tentang bagaimana subjek tersebut dapat membuat pembelajar tertarik. Misalnya, mengapa subjek tersebut dapat bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari/bagi agama? Apa contoh konkrit pemanfaaan/aplikasinya yang bisa saya lihat langsung? Hal-hal “keren” apa yang bisa dilakukan jika sang pembelajar berhasil menguasai topik ini?

Tahap 2:  Core Theory

Ini merupakan tahap inti pembelajaran di mana pembelajar secara aktif “mencari” dan tidak sekedar mendengarkan. Berikut beberapa catatan dan learning tools yang dapat digunakan untuk membantu pembelajar dalam tahap ini:

1.  Belajar dengan mencicil. Belajar sesuai “Bite-Size” pembelajar.  
Bagi-bagi subjek pembelajaran menjadi bagian-bagian kecil. Kemudian bagi lagi menjadi “bite-size chunks” untuk setiap satu kali belajar (satu kali gigit-kunyah-telan).

2. Ikatlah ilmu dengan tulisan.
Mencatat membantu kita membuat titian ingatan. Demikian pula bila sedang pasif mendengarkan, terkadang ada hal-hal penting  yang dijelaskan oleh guru yang tidak terdapat dalam buku teks sehingga sangat penting bagi kita untuk mencatatnya. Mencatat juga diperlukan saat praktik. Contoh sederhananya saat mempraktikkan suatu resep masakan, seringkali tidak dijelaskan hal-hal sederhana seperti berapa lama menumis, apakah dengan api kecil sedang atau besar, dll.. saat praktik, mencatat dapat membantu kita menjalankan resep itu dengan lebih baik di kesempatan yang lain.

3. Menggunakan mind-map dalam membentuk struktur berpikir.
Mind-map dapat membantu kita untuk melihat gambaran holistik hal yang sedang dipelajari.  Berikut sedikit ulasan tentang apa itu mind map dan bagaimana cara membuatnya.

4.  Menggunakan Teknik Pomodoro untuk membantu  diri tetap fokus.
Teknik Pomodoro, adalah satu teknik manajemen waktu menggunakan timer di mana pekerjaan (dalam hal ini belajar) dibagi menjadi interval di mana ada saatnya kita fokus dan ada saatnya beristirahat.  Misalnya,  kita tetapkan waktu untuk fokus selama 25 menit, dan setelahnya beristirahat selama 5 menit. Maka kita set waktu timer 25 menit, dan selama 25 menit tersebut kita harus fokus pada pekerjaan. Tidak boleh lihat hp, mengecek email, membalas sms, dll.. pokoknya fokus dengan pekerjaan/belajar kita. Barulah setelah alarm berbunyi kita memiliki waktu istirahat (yang tidak terlalu lama, misal 5 menit) untuk melakukan hal lain di luar pekerjaan.  Dan setelah waktu istirahat habis, kita mulai lagi sesi pomodoro kedua, 25 menit fokus, 5 menit istirahat.. begitu seterusnya selama satu hari..

Saya telah mencoba menerapkan teknik ini saat menyelesaikan tesis, dan alhamdulillah meski dalam sehari hanya “berhasil” menyelesaikan 6 sesi pomodoro, saya rasa hasil kerjanya lebih lumayan dibandingkan kerja tanpa direncanakan waktu fokus-istirahatnya. Dan pembagian waktu 25-atau 5-menitnya itu dapat disesuaikan dengan kemampuan kita. Misalnya waktu 25 menit terlalu lama bagi kita untuk bisa fokus, maka boleh diawali dengan 20 menit dulu baru 5 menit istirahat. Namun gunakan timer agar lebih disiplin dalam menjalankannya. Selengkapnya tentang teknik Pomodoro.

5. Tidak lupa refreshing dan istirahat 
Menurut kuliah online yang saya ikuti tersebut, istirahat saat belajar sangat penting agar materi yang telah kita pelajari bisa tersambungkan sinaps-nya dengan hal terkait/tersimpan di dalam otak/memori.  Ketika tidur/beristirahat otak kita memproses apa yang telah sebelumnya kita pelajari. Jadi, belajar non-stop atau metode SKS dalam belajar sebetulnya cara belajar yang tidak efektif. Kalau sudah ngantuk/bosan belajar ya tidur/istirahat saja. Percayalah bahwa selama kita istirahat itu ada materi yang diproses di dalam otak (mungkin asal ngga kebanyakan juga ya materinya hehe). Dan setelah beristirahat juga biasanya otak lebih fresh dan lebih siap menerima materi yang baru.

Tahap 3: Practice

Latihan itu penting. Biasanya praktek itu lebih sulit ya daripada teorinya. Sekali praktik biasanya tidak langsung berhasil. Bila belum berhasil, maka kita bisa kembali ke tahap 3, belajar lagi, mencatat apa yang keliru, lalu kemudian praktik lagi :).  Disebutkan juga dalam kuliah online itu bahwa “practice makes permanent“. Praktik membantu apa yang sudah dipelajari untuk lebih menempel di ingatan.

Tahap 4: Evaluate

Evaluasi dalam dilakukan dalam bentuk test, produk akhir, atau presentasi. Omong-omong soal presentasi, presentasi ini adalah salah satu alat ukur dalam mengetahui apakah kita telah memahami suatu hal.. Dulu saya pernah membaca satu pertanyaan yang menarik,

“Bagaimana caranya Anda mengetahui bahwa Anda telah benar-benar memahami suatu hal?”

Teringat ketika SMA dulu, saya pernah mengatakan kepada teman sebangku bahwa saya telah paham satu bagian pelajaran.. namun kawan sebangkuku yang pandai itu tak begitu saja “merasa paham”.  Kemudian ia bertanya ini-itu tentang pelajaran tersebut kepada saya, sementara saya terbata-bata mencoba menjelaskan dengan penjelasan yang samar.. Akhirnya saya hanya mematung melihatnya cas-cis-cus mengungkapkan pertanyaannya… dan barulah saya sadar…

Ooo rupanya saya belum benar-benar paham… ^^

Jadi, bagaimana caranya kita tahu kalau kita telah benar-benar paham?

“Coba jelaskan hal tersebut kepada orang lain yang belum tahu apa-apa tentangnya. Atau bahkan kepada anak kecil..”

Demikian yang pernah saya baca.

Terkadang kita merasa telah memahami sesuatu, namun berapa persen sesungguhnya yang telah kita pahami? terkadang ketika mencoba menjelaskannya kembali rasanya sulit mengeluarkan kata-kata. Mungkin saat itu kita belum benar-benar paham dan baru mengetahui sekian persennya (masih dangkal).

Hal ini selaras dengan cemilan Rabu dari kelas MIIP pekan ke-5..

Piramida Belajar
Piramida Belajar

We learn the most from what we teach to others. Karenanya presentasi atau menjelaskan kembali apa yang telah dipelajari menurut saya adalah sebuah bagian yang penting dalam sebuah desain pembelajaran.

***

Demikian desain pembelajaran yang coba saya susun dari apa yang telah saya dapatkan/lakukan sebelum ini. Semoga bermanfaat.

 

Iklan

Satu pemikiran pada “NHW #5: Learning to Design a Learning Design

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s