Lagi

Dia berjalan, lalu berhenti. Menangis, meratap, terdiam, lalu berjalan lagi.

Dia berlari, lalu terhenti. Terjatuh, mengaduh, mengeluh, lalu berlari lagi.

Dia bermimpi, lalu tak berani. Menyusut, mengerut, mengerdil, tapi bermimpi lagi.

biarkan aku hidup dalam diriku. itu saja.

biarkan aku hidup dalam mampuku. itu saja.

biarkan aku berdiri, berlari, terdiam, berhenti.

dan ingatkan aku untuk bangkit lagi.

At the Descend Sun

Aku baru sadar, sudah sore ternyata.  Menatap perjalananku seharian, manis, pahit, seru, tegang, cinta, kasih, keraguan, pembelajaran… Sudah jadi apa aku sore ini? siapkah menghadapi kelam malam yang kian dekat.

Aku bukan orang yang pandai menerka, ingin malam seperti apa nantinya. Karenanya, kubiarkan mengalir seperti air. Nyatanya, tibalah juga aku pada tanya itu, pada resah itu, pada titik dimana diri demikian takut akan pekat yang datang.

Aku tidak menggantungkan bintang-bintang penghias malam, meski satu dua mungkin ku pendam. Tapi hasrat hidupku menemuinya nyaris tak ada. Karenanya, ku biarkan ia mengalir saja. Nyatanya, tibalah jua aku pada tanya itu, pada resah itu, akan pekat yang tak kunjung kupasrahkan hati bintangku tuk menghiasnya.

Kini ku merasa begitu kecil, seperti anak-anak sama sekali. Malam, kan demikian suramkah engkau nantinya. Mentari, tak juakah kau tunggu sebentar saja. Meski diriku tak mampu menjanjikanmu temukan bintangku.  Aku hanya ingin, gulana ini tak lagi membayangiku terlalu.

***

Tapi, wahai mentari yang meredup, aku hanya ingin mengenang, sesuatu yang pula kurasa membuatku teramat berat mengantar kembalimu ke peraduan. Tentang cinta yang kini kurasakan. Tentang sesuatu yang mungkin di hari-hari yang lalu belum sempat kutemukan.

Siang ini, aku menikmati hidup lebih banyak. Meski banyak hal dari kesempurnaan tak lagi menarik perhatian, aku merasa lebih bahagia. Di siangku, ku belajar untuk menikmati hidup, membuatnya lebih sederhana, memaknainya dari sisi yang berbeda. Untuk bahagia yang ini, aku benar-benar berterima kasih telah dipertemukan dengan kawan seperjalananku siang ini. Sungguh menyenangkan, takkan terlupa.

Terima kasih kawan, semoga bintang-bintang kita nanti malam bersinar terang.

———–

Mungkin dari hati

dengan peluh, tanpa keluh

pertanyakan terus dan tak mengerti

kupikir aku telah pergi jauh

nyatanya masih di sana

um, mungkin semua tak semudah yang disangka

namun siapa sangka akan demikian sulitnya

mungkin hanya ulah hati sementara

atas penat tanya yang tak kunjung luluh berbalas

dalam pada itu

kiranya penghentian kaki menjadi kebaikan yang cukup berarti

bagiku

setidaknya tak lagi mengumpankan ia

menghentikan penambahan jawab atasnya

dan membiarkanku

menghela lebih lama

~~ zz

night

Satu Kurang Seribu

Jatuh dari ketinggian

menyakitkan

semakin tinggi semakin sakit

 

Tapi laiknya bayi yang belajar berjalan

berlajar ke ketinggian selalu membuat lelah, tangis

namun meyerah selalu kalah

oleh kuat inginnya dan dukungan keras bunda

 

Umpama anak lelaki yang penuh ingin tahu

memanjat tinggi-tinggi

jatuh.

sakit.

luka.

meringis.

namun tak pernah kapok.

menyerah kalah oleh rasa bahagianya menatap bumi di ketinggian

 

sekali jatuh

tumbuh seribu harap

 

dan kuharap sebagaimana itu semua

kupahami dalam teorinya

aku

dengan satu yang kini di sampingku

menantikan  seribu.