Aku baru sadar, sudah sore ternyata. Menatap perjalananku seharian, manis, pahit, seru, tegang, cinta, kasih, keraguan, pembelajaran… Sudah jadi apa aku sore ini? siapkah menghadapi kelam malam yang kian dekat.
Aku bukan orang yang pandai menerka, ingin malam seperti apa nantinya. Karenanya, kubiarkan mengalir seperti air. Nyatanya, tibalah juga aku pada tanya itu, pada resah itu, pada titik dimana diri demikian takut akan pekat yang datang.
Aku tidak menggantungkan bintang-bintang penghias malam, meski satu dua mungkin ku pendam. Tapi hasrat hidupku menemuinya nyaris tak ada. Karenanya, ku biarkan ia mengalir saja. Nyatanya, tibalah jua aku pada tanya itu, pada resah itu, akan pekat yang tak kunjung kupasrahkan hati bintangku tuk menghiasnya.
Kini ku merasa begitu kecil, seperti anak-anak sama sekali. Malam, kan demikian suramkah engkau nantinya. Mentari, tak juakah kau tunggu sebentar saja. Meski diriku tak mampu menjanjikanmu temukan bintangku. Aku hanya ingin, gulana ini tak lagi membayangiku terlalu.
***
Tapi, wahai mentari yang meredup, aku hanya ingin mengenang, sesuatu yang pula kurasa membuatku teramat berat mengantar kembalimu ke peraduan. Tentang cinta yang kini kurasakan. Tentang sesuatu yang mungkin di hari-hari yang lalu belum sempat kutemukan.
Siang ini, aku menikmati hidup lebih banyak. Meski banyak hal dari kesempurnaan tak lagi menarik perhatian, aku merasa lebih bahagia. Di siangku, ku belajar untuk menikmati hidup, membuatnya lebih sederhana, memaknainya dari sisi yang berbeda. Untuk bahagia yang ini, aku benar-benar berterima kasih telah dipertemukan dengan kawan seperjalananku siang ini. Sungguh menyenangkan, takkan terlupa.
Terima kasih kawan, semoga bintang-bintang kita nanti malam bersinar terang.
———–