Sesederhana yang Ku Punya

Cukupkan bahagiaku

dengan menggenggam fakta

bahwa aku mencintai apa yang kuncintai

ianya tlah demikian mewarnai diri

mengantarkan pada tempatku sekarang

bagaimanapun umpan baliknya

seperti kutipan favorit dari salah seorang favoritq,

You are what you love Charlie, not who loves you

cheers,

me   : )

Nyatanya, titik nol ga ada di tempat..

Kalau mengetahui fakta-faktanya, jelas sekali nggak ada satu pun alasan yang mendukung kenapa sesuatu itu ada di situ sekarang.  Tapi nyatanya, ia tetep aja ada di sana.  Setelah pada waktu yang berselang aku telah mengumpulkan berbagai alasan yang kuat menyatakan bahwa yah… sesuatu itu memang tidak perlu ada di sana.  Tapi nihil,, belum terlihat manfaatnya.

Kadang-kadang manusia bisa menjadi sangat tidak rasional.  Padahal segenap pikiran rasionalnya telah penuh peluh menggagaskan bahwa itu bukan jalan yang baik untukmu, berbaliklah… find other way… tapi adaaa aja sesuatu yang ngeyel.. kaya begini ini nih..

kalau dulu…

aku merasa nyaman dan baik-baik saja dengan keberadaan sesuatu itu di situ, karena aku menerimanya sebagai sesuatu hal yang wajar.  Aku tidak mencari-cari alasan kenapa harus menghilangkannya dari sana.  Dan entah bagaimana aku tenang-tenang saja,, walaupun memang ya… keberadaan sesuatu itu di situ tidak mungkin membuat seseorang manapun yang memilikinya akan 100% tenang.  Gaya penerimaan ini malah sempat membuatku menemukan sebuah perumusan baru tentang hal itu yang menurut Andrea Hirata sesuatu yang Indonesia bangeet..

tapi sekarang ceritanya lain…

ceritanya aku mencoba sok tahu dengan memanggil kembali memori di hari-hari kemarin, mengelaborasinya dengan fakta terbaru yang kuketahui, dan membuatku mengambil kesimpulan dengan yakin ; sesuatu itu memang tidak seharusnya ada di sana. Alasannya, pertama : memang tidak ada hal yang masuk akal yang menyebabkannya menjadi perlu untuk ada di sana.  Kedua :  fakta terbaru menyebutkan hal itu tidak baik ada di sana dan tetap di sana.

Namun keanehan justru muncul…

Penolakan dan upaya pengusiran ini justru membuat hati nggak tenang.  Nggak seperti saat keberadaan sesuatu itu tidak ku ganggu gugat.  Makanya kadang-kadang pikiranku bilang aku harus begini, tapi yang kulakukan akhirnya malah begitu,,

Berkali-kali pikiran mencoba menegaskan, bahwa sesuatu itu memang tidak ada di sana, jadi mengapa harus risau? sampai-sampai setengah yakin kalau aku ini salah merasa.  setengah berpikir bahwa aku mungkin perlu mengkalibrasi ulang perasaan supaya yakin bahwa titik nol nya memang tidak terganggu macam-macam yang menyimpangkannya ke titik lain.

Namun faktanya,, ya… aku memang risau. Titik nol memang tidak pada tempatnya.  Sesuatu itu mungkin memang masih ada di sana, entah bagaimana caranya.

Kalau demikian,, bukankah lebih baik kembali dengan kenyamananku sebelumnya.  Membiarkan sesuatu itu ada di situ. Tidak menggubrisnya.  Berhenti membawakannya berbagai macam fakta dan alasan yang mengusirnya dari sana.

Kadang kala saat kita ingin melupakan sesuatu benar-benar, kita malah mengingatnya benar-benar.  Maka acuhkan saja, tak perlu berikrar pada diri sendiri bahwa hal itu harus dilupakan.  Biarkan waktu yang membuat semuanya berjalan seperti apa adanya…

adakah memang seperti itu seharusnya..?

ah,,, ga habis pikir…

PS : hihihi… maaf ya, sekarang nulisnya gaya melankolis mulu, mgkn krn gi tanggal-tanggal berbahaya nih… maaf juga buat yang merindukan catatan kuliah… aku aga ketinggalan nih.. yap,, gaya nulis kayak gini ternyata ada manfaatnya juga, bisa curhat tapi nggak dimengerti sama orang (hohoho… : )

Celoteh Cinta (hihihi…)

[katanya sso...
Cintailah seseorang sewajarnya
Karena boleh jadi suatu saat
Kau akan membencinya]

[um.. mungkin juga menurut za..]
Cintailah seseorang sewajarnya
Namun dengan kewajaran cinta itu
Berikanlah kasih sayang dengan sungguh

***

Merasa bebas untuk mencintai siapapun. Karena tidak ada yang perlu dikhawatirkan akan hilang dari cinta. Jika perwujudannya adalah kasih sayang dan keinginan untuk memberi, bukan (melulu) mengharapkan sesuatu dari seseorang yang dicintai. Oleh sebab itu, cintailah seseorang sewajarnya. Karena cinta yang wajar akan menjaga sumbunya agar tidak terbakar harapan dan angan-angan.

Cintailah seseorang sewajarnya. Namun dengan kewajaran cinta itu, berikanlah kasih sayang yang kita punya dengan sungguh-sungguh. Karena (menurutku) hal itulah yang sesungguhnya membuat kecintaan kita menjadi indah –tidak hanya untuk sebentar saja. Cinta yang wajar, namun penuh kelembutan, kehangatan, sehingga seseorang dengan permasalahan hidup yang begitu pelik pun akan berkata dengan yakin, “hidup ini indah, kawan..” Cinta yang wajar, yang kadang tidak memerlukan banyak kata-kata untuk menjadikannya terindera.

—ini sekedar celotehan—jangan percaya ya—tapi buktikan sendiri—dan tuliskan sesuatu yang kau rasakan itu— lebih bagus lagi—

=p

(Di tempat mangkal biasa (hehehe..) 100808,9.00pm)

To Remember

“Biasakanlah diam, karena dapat memberimu kebeningan cinta,
dan menjagamu dari akibat yang jelek,
memakaikan pakaian kewibawaan kepadamu,
dan mencukupkan bagimu bahan untuk beralasan,”

(dari elfata 06 vol 08, h.88 )