Mimpi-mimpi Lintang Maryamah Karpov halaman 285,
“kesulitan akan gampang dipecahkan dengan mengubah cara pandang, Boi”.
Perkataan Lintang kepada Ikal ini terucapkan saat Ikal tengah dilanda gundah ketika ia ingin membuat sebuah perahu. Kala itu, Ikal telah melihat perahu buatan pakarnya, Mapangi, yang kehebatannya membuat Ikal menjadi ragu,, adakah ia sanggup membuat yang seperti demikian.
Betapa tidak, Ikal perhatikan detail perahu itu, memperkirakan tingkat kesulitan membuatnya. Hingga tergagas di benaknya, bahwa pembuat perahu adalah pembuat papan menari. Bahwa pembuat perahu haruslah seorang tukang kayu, pandai besi, seorang seniman, penyabar , dan matematikawan sekaligus. Demikian sulit hingga baginya membuat perahu seperti menegakkan benang basah.
Perkataan Lintang selanjutnya kembali membuat saya tertegun. Masih di halaman 285,
“Jika kepalamu selalu dipenuhi oleh hebatnya kapal Bulukumba Mapangi, tak kan mampu kau buat perahu itu. Mulai sekarang kau harus berpikir bahwa perahu, apapun bentuknya, adalah sebuah bangun geometris yang tunduk pada dalil-dalil hidrodinamika. Berangkatlah dari sana… “
***
Kadang-kadang,hal seperti demikian terjadi pada saya juga. Apakah demikian juga dengan kawan-kawan ya?
Saat melihat hasil karya seorang teman yang bagus dan mengundang decak kagum, yang cukup sering terjadi adalah saya selalu memikirkan bagaimana untuk bisa membuat yang seperti demikian. Kemudian terbayanglah oleh saya proses pembuatan yang sulit, serta pembelajaran yang diperlukan supaya bisa membuat yang seperti itu. Kubayangkan kesulitan membuatnya, kubayangkan bahwa orang yang membuatnya telah menggeluti bidang itu dalam waktu yang tak sebentar, kubayangkan betapa ia telah sarat pengalaman, lalu membandingkannya dengan diriku sendiri. Kemudian, terkalah kawan, apa yang terjadi?
Yang terjadi selanjutnya adalah mirip seperti apa yang digambarkan oleh cerita Bang Ikal di atas. Perasaan jadi gundah, takut, dan ragu-ragu. Merasa kecil dan tidak pede.
***
Contohnya, sewaktu melihat aplikasi buatan teman.
Selama ini saya “hanya” dibuat terkagum-kagum dengan program buatan orang lain. Membayangkan bagaimana membuatnya, membayangkan tingkat kesulitannya itu tadi. Menjadi galau karena saya hanya mengetahui dasar-dasar pemrogramannya, gundah karena tak tahu darimana harus memulainya, dan ragu karena tidak memiliki pengalaman membuat aplikasi ‘betulan’.
Pikiran-pikiran ini secara tak sadar membuat saya lumpuh perlahan. Pikiran bawah sadar mungkin telah membisikkan bahwa membuat aplikasi adalah pekerjaan sulit yang memerlukan banyak pengalaman.
Hm,, sekarang saya tahu, mengapa saat itu rasanya sulit sekali untuk maju? Karena saat itu saya melihatnya dari sisi yang saya tidak mampu berangkat darinya. Melihat program jadi sebagai program jadi (hehe ribet yeuh). Hm, kamu perlu mengubah cara pandang, za…
“Jika kepalamu selalu dipenuhi dengan hebatnya program buatan si JagoProgram , tak kan mampu kau buat program itu. Mulai sekarang kau harus berpikir bahwa program, apapun bentuknya, adalah untai algoritma yang diimplementasikan dalam rangkaian token-token yang tunduk pada aturan sintaks suatu bahasa tertentu. Berangkatlah dari sana…”
Semuanya berangkat dari bentuk terkecilnya, dari bentuknya yang paling sederhana yang bisa kita pelajari. Meski dalam merangkai algoritma diperlukan pemahaman dan kreativitas yang diasah lewat pengalaman, bagaimanapun, perjalanan seribu langkah selalu dimulai dari langkah pertamanya. Jadi melangkah saja dulu… Kalau pun kita kesal karena sekarang langkah kaki kita kecil-kecil,,( pembelajaran kita pelan-pelan), boleh jadi kita sedang mempersiapkan ancang-ancang untuk berlari kencang.
***
Contoh lainnya, saat melihat seseorang yang sangat prestatif, juara di berbagai lomba, IPK yang sempurna, kecerdasan yang tak dapat diduga dalamnya, kecerdasan sosial yang juga baik. Ada yang terpicu dengan kebaikan yang keluar dari orang lain, ketika menempatkannya dengan tepat. Namun mungkin pula akan ditemukan kasus sebaliknya, perasaan kesulitan, saat orang itu mencoba maju dari titik tersulit, dari titik pencapaian yang orang lain telah capai.
Dengan mengubah sedikit pandangan, bukan tak mungkin kita malah mencapai sesuatu yang lebih besar dari itu. Karena kita beranjak maju dengan apa yang dapat dicapai oleh seorang ‘kita’. Diri sendiri yang tak dikenali orang lain sebaik apa yang mampu dikenali dirinya.
***
Hm,, intinya, jika kita mulai memandang sesuatu sebagai sebuah kesulitan, mungkin kita harus berusaha melihatnya dari sisi yang lain. Mengubah cara pandang. Mencari titik pandang yang menaklukan masalah itu. hehe…
Berangkatlah dari sana…
Berangkatlah dari sesuatu yang kita mampu beranjak maju darinya. Berangkatlah dari sesuatu yang telah kita pahami, dari sesuatu yang telah kita kenal…
—hehe. maaf klo kepanjangan…
W.I.P (written in peace)- : )
nb : kayaknya quote “kesulitan akan dapat dipecahkan dengan mengubah cara pandang” juga berlaku untuk urusan coding (perangkaian algoritma) deh.. hehe
hope i can do what i’ve written