13-12-2010

pada suatu ketika mungkin kt pernah menginginkan taman yang luas dan besar, dipenuhi beraneka ragam flora indah.. kemudian melupakan kebun kecil sendiri.. padahal,, saat kebun itu dihargai dengan baik, dirawat dan diinginkan.. pada masanya ia akan memberikan bunga-bunga yang indah bermekaran.. ketika itu, mungkin,kepuasan lahir bukan hny karena akhir yang indah.. tapi lebih karena menikmati perjalanan merawatnya hingga tiba di sana..

kepada kuncup yang mulai bermekaran di kebunku, terima kasih untuk hari ini.

bila senja pada akhirnya menjemput dan membawaku ke tempat yang baru, pelajaran berharga darimu tak akan terlupakan, untuk menghargai sekecil apapun yang aku punya, memberikan usaha yang terbaik pada apa-apa yang sekarang menjadi tugasku, merasa bahagia dengan apa-apa yang saat ini ada di sisiku, meski mungkin awalnya kurasa itu tak banyak..tak luas..

“la in syakartum, la aziidannakum..”

#Reminderformetoo

Pandangan yang Menaklukan

 

 Mimpi-mimpi Lintang Maryamah Karpov halaman 285,

“kesulitan akan gampang dipecahkan dengan mengubah cara pandang, Boi”.

 

Perkataan Lintang kepada Ikal ini terucapkan saat Ikal tengah dilanda gundah ketika ia ingin membuat sebuah perahu.  Kala itu, Ikal telah melihat perahu buatan pakarnya, Mapangi, yang kehebatannya membuat Ikal menjadi ragu,, adakah ia sanggup membuat yang seperti  demikian.  

Betapa tidak, Ikal perhatikan detail perahu itu, memperkirakan tingkat kesulitan membuatnya.  Hingga tergagas di benaknya, bahwa pembuat perahu adalah pembuat papan menari.  Bahwa pembuat perahu haruslah seorang tukang kayu, pandai besi, seorang seniman, penyabar , dan matematikawan sekaligus.  Demikian sulit hingga baginya membuat perahu seperti menegakkan benang basah.

Perkataan Lintang selanjutnya kembali membuat saya tertegun.  Masih di halaman 285,

“Jika kepalamu selalu dipenuhi oleh hebatnya kapal Bulukumba Mapangi, tak kan mampu kau buat perahu itu.  Mulai sekarang kau harus berpikir bahwa perahu, apapun bentuknya, adalah sebuah bangun geometris yang tunduk pada dalil-dalil hidrodinamika.  Berangkatlah dari sana… “

 

***

 

Kadang-kadang,hal seperti demikian terjadi pada saya juga.  Apakah demikian juga dengan kawan-kawan ya?

Saat melihat hasil karya seorang teman yang bagus dan mengundang decak kagum, yang cukup sering terjadi adalah saya selalu memikirkan bagaimana untuk bisa membuat yang seperti demikian.  Kemudian terbayanglah oleh saya proses pembuatan yang sulit, serta pembelajaran yang diperlukan supaya bisa membuat yang seperti itu.  Kubayangkan kesulitan membuatnya, kubayangkan bahwa orang yang membuatnya telah menggeluti bidang itu dalam waktu yang tak sebentar, kubayangkan betapa ia telah sarat pengalaman, lalu membandingkannya dengan diriku sendiri.  Kemudian, terkalah kawan, apa yang terjadi?

Yang terjadi selanjutnya adalah mirip seperti apa yang digambarkan oleh cerita Bang Ikal di atas.  Perasaan jadi gundah, takut, dan ragu-ragu.  Merasa kecil dan tidak pede.

 

***

 

Contohnya, sewaktu melihat aplikasi buatan teman.

Selama ini saya “hanya” dibuat terkagum-kagum dengan program buatan orang lain.  Membayangkan bagaimana membuatnya, membayangkan tingkat kesulitannya itu tadi.  Menjadi galau karena saya hanya mengetahui dasar-dasar pemrogramannya, gundah karena tak tahu darimana harus memulainya,  dan ragu karena tidak memiliki pengalaman membuat aplikasi ‘betulan’. 

Pikiran-pikiran ini secara tak sadar membuat saya lumpuh perlahan.  Pikiran bawah sadar mungkin telah membisikkan bahwa membuat aplikasi adalah pekerjaan sulit yang memerlukan banyak pengalaman. 

Hm,, sekarang saya tahu, mengapa saat itu rasanya sulit sekali untuk maju? Karena saat itu saya melihatnya dari sisi yang saya tidak mampu berangkat darinya.  Melihat program jadi sebagai program jadi (hehe ribet yeuh).  Hm, kamu perlu mengubah cara pandang, za…

“Jika kepalamu selalu dipenuhi dengan hebatnya program buatan si JagoProgram , tak kan mampu kau buat program itu.  Mulai sekarang kau harus berpikir bahwa program, apapun bentuknya, adalah untai algoritma yang diimplementasikan dalam rangkaian token-token yang tunduk pada aturan sintaks suatu bahasa tertentu.  Berangkatlah dari sana…”

 

Semuanya berangkat dari bentuk terkecilnya, dari bentuknya yang paling sederhana yang bisa kita pelajari.  Meski dalam merangkai algoritma diperlukan pemahaman dan kreativitas yang diasah lewat pengalaman, bagaimanapun, perjalanan seribu langkah selalu dimulai dari langkah pertamanya.  Jadi melangkah saja dulu… Kalau pun kita kesal karena sekarang langkah kaki kita kecil-kecil,,( pembelajaran kita pelan-pelan), boleh jadi kita sedang mempersiapkan ancang-ancang untuk berlari kencang.

***

 

Contoh lainnya, saat melihat seseorang yang sangat prestatif, juara di berbagai lomba, IPK yang sempurna, kecerdasan yang tak dapat diduga dalamnya, kecerdasan sosial yang juga baik.  Ada yang terpicu dengan kebaikan yang keluar dari orang lain, ketika menempatkannya dengan tepat.  Namun mungkin pula akan ditemukan kasus sebaliknya, perasaan kesulitan, saat orang itu mencoba maju dari titik tersulit, dari titik pencapaian yang orang lain telah capai.

Dengan mengubah sedikit pandangan, bukan tak mungkin kita malah mencapai sesuatu yang lebih besar dari itu. Karena kita beranjak maju dengan apa yang dapat dicapai oleh seorang ‘kita’. Diri sendiri yang tak dikenali orang lain sebaik apa yang mampu dikenali dirinya.

***

 

Hm,, intinya, jika kita mulai memandang sesuatu sebagai sebuah kesulitan, mungkin kita harus berusaha melihatnya dari sisi yang lain.  Mengubah cara pandang.  Mencari titik pandang yang menaklukan masalah itu. hehe…

 

Berangkatlah dari sana…

Berangkatlah dari sesuatu yang kita mampu beranjak maju darinya. Berangkatlah dari sesuatu yang telah kita pahami, dari sesuatu yang telah kita kenal… 

 

 

—hehe. maaf klo kepanjangan…

W.I.P (written in peace)-    : )

 

nb : kayaknya quote “kesulitan akan dapat dipecahkan dengan mengubah cara pandang” juga berlaku untuk urusan coding (perangkaian algoritma) deh.. hehe

 

hope i can do what i’ve written

Empat Mata eh.. Empat Sisi

critanya sriusan dikit nih ah…

Seringkali aku merasa kepayahan, jika memandangi fakta tentang keberadaan rentang yang cukup jauh antara ku dengan aku yang dulu. Ada cukup banyak sisi-sisi yang ku suka dari sesuatu yang kurasakan itu sebagai kebaikan, tetapi kini telah hilang.

Tercenung aku sore ini, setelah Ibu dosen yang sarat ilmu itu menyelangi kuliah dengan cerita tentang empat sisi diri yang dimiliki manusia. Pertama, sisi setan, yang membisikkan kejahatan ke dalam hati, tentang kesombongan iri, dengki, dll. Kedua, binatang, mendominasi saat seseorang marah tak terkendali. Ketiga, bipbip, yang pemalas, rakus, jorok, menuruti nafsu. Keempat, sisi malaikat dengan segala kebaikan-kebaikannya, jujur, suka menolong, hingga sesederhana senyum yang tulus. Dan kebaikan, atau sisi baik itu perlu dipupuk, caranya dengan terus berusaha melakukannya,segera.

Pertnyaannya kemudian adalah, mana yang dominan pada dirimu? Hanya kita sendiri yang tahu jawabannya. Apa yang terlintas di hati, di pikiran, apa yang dilakukan anggota badan. Apa yang orang lain tahu juga yang tidak orang lain tahu. Tapi kita tahu dan mampu merasakannya sehingga kita sendirilah yang mampu menilai. Dan kita jualah yang bisa memperbaikinya.

Hal itulah yang rasanya menusuk-nusuk htku, mengungkapkan kembali lembar-lembar kepayahan yang telah kucoba tutup rapat, enggan kupedulikan. Tentang perubahan diri, yang kini mungkin lebih sering memiiki sisi satu, dua, atau tiga. Tentng diri yang kian jauh dari usaha pemupukan sisi keempat. Dan dengan fakta-fakta yang tersajilah aku mengambil kesimpulan bahwa sungguh mungkin aku tlah gagal. Kesimpulan itu sempat membuatku merasa begitu kepayhan dan lelah… hingga teringat sesuatu…

Bahwa untuk bergerak, berubah menjadi lebih baik, kita memerlukan energi, dan tidak akan ada energi jika kita tidak memercayai bahwa diri kita mampu menembus segala rintangan yang ada dan tersaji saat ini. Bahwa siapapun diri kita saat ini, penerimaan akan state yang kau miliki saat ini dengan segenap kekurangan dan kelebihanya menjadi hal yang lebih penting, jauh lebih penting daripada meratapi kondisi yang kian-kian memburuk. Karena penerimaan akan menghadirkan energi, sedangkn meratap hanya akan membuat kepayahan semakin menjadi. Penerimaan laiknya persepsi positif yang diberikan kepada sensor sebuah agen cerdas, hingga aktuatornya akan memilihkan aksi-aksi yang positif,,

Siapapun diriku sekarang, meskipun bukan siapa-siapa, bersyukurlah selalu dengan menerimanya… kelebihan juga kekurangannya… dengan kelebihan bahwa itu adalah sesuatu yang harus dijaga, dipertahankan, senantiasa diperbaiki tulusannya. Juga dengan kekurangan, bahwa dengan itu aku mendapat amanat untuk mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih baik,, dengan menerima… semuanya akan terasa lebih nyaman dijalankan, usaha akan lebih ringan dilakukan, karena tak ada cela dari diri untuk diri yang akan menjadikannya kian kepayahan.

Seperti seorang teman yang pernah memberi kutipan…

…And I’m grateful I never be perfect

Coz I have so much chance to become better each day….

Be glad and keep move on!..

Episode Berikutnya

Terinspirasi membuat tulisan ini dari catatan harian yang tertanggal lima hari silam. Malam itu, penjelajahan dunia maya berujung pada blognya teman-teman. Isinya bagus. Temanya tentang perkomputeran yang belum za tahu. Kesan yang membekas setelah itu: za harus belajar lebih banyak lagi nih..! :p

Dari pembawaan, gaya bicara, dan keseharian, za nggak menyangka kalau temen-temenku ini adalah orang-orang yang seneng baca buku-buku tebel. Pembawaan yang ringan, gaya yang cuek, nggak sombong (walau ada juga c kalau yang narsis mah :) but it’s no problem..) itu juga yang buat za kagum. Seperti menonton episode dalam peribahasa ‘air tenang menghanyutkan..’.

Dari sejak dulu, tepatnya mungkin SMA, senang rasanya ada di dekat orang-orang yang kalau bicara bercahaya. Tutur yang terucap dari mereka seperti pemantik bagi api semangat yang telah padam. Atau seperti benda yang biasa kau perlukan saat hapemu low-batt. Mungkin juga seperti lilin yang menyala saat listrik padam. Senang kan dekat-dekat sama lilin kalau lagi gelap? Atau seperti saat kau kelelahan dalam sebuah balapan lari, lalu tiba-tiba temanmu melesat mendahului, bukankah meski lelah kau bertekad untuk menghentak tubuh lebih cepat lagi?

Ucapan bercahaya itu tidak melulu tentang sesuatu dimana seseorang yang mengucapkannya akan dicitrakan sebagai seorang yang bijak. Tetapi juga mencakup keilmuan umum yang bisa membuat orang yang menyukai bidang ilmu itu merasa berdebar-debar. Berdebar karena luapan rasa ingin tahu, ingin lebih bisa, dan ingin lebih baik.

Terlebih jika itu diucapkan oleh orang yang tidak bermulut besar. Karena ada juga mungkin orang yang sebetulnya ucapannya baik, bagus dan bercahaya., tetapi karena seringnya berucap macam-macam, saat kata-kata bercahaya itu keluar orang tak menyadarinya. Kata-kata bercahaya itu telah melesat dengan kecepatan 300.000 km/jam. Cahayanya keburu pergi, terserap kata-kata yang lain.. (hehe..).

Alasan lainnya kenapa kata-kata bercahaya menjadi tak terindera adalah karena pengucapnya lupa sama petani, eh, sama ilmu padinya ding. Karena merasa pintar atau tahu banyak, malah jadi menyombongkan diri. Alhasil, orang-orang keburu pakai kacamata hitam kalau melihat dia, sehingga cahayanya jadi nggak ‘silau man..!’ lagi deh.. :p

Pengucap yang terindera cahayanya tidak bermulut besar. Mereka adalah orang-orang yang mungkin tahu banyak hal, bahkan mungkin menyadari kalau kemampuan mereka berada di atas rata-rata kawan mereka, tetapi tetap sederhana, nggak sombong, dan senantiasa bersedia membagi ilmu tanpa merasa lebih tahu. Sikap sederhana inilah juga yang membuat orang di dekatnya merasa aman, tenang, dan nyaman tanpa perlu merasa minder atau nggak se-level dengannya.

Bagian yang paling membuat za berdebar-debar saat membaca buku Laskar Pelanginya Andrea Hirata –yang diangkat dari kisah hidup penulisnya— adalah saat Ia bercerita tentang Lintang. (Tapi sepertinya bukan hanya za yang merasa demikian lo). Beberapa bait tulisannya yang bagus-bagus intinya masih za inget dikit-dikit. Bahwa orang cerdas seperti Ia, keunggulannya tidak membuat orang lain merasa terancam, kecemerlangannya tak menerbitkan iri dengki, kehebatannya tak mengisyaratkan sifat angkuh.

Ah, .. inginnya bisa jadi orang kayak gitu…

(070808,rum swit rum)