Episode Berikutnya

Terinspirasi membuat tulisan ini dari catatan harian yang tertanggal lima hari silam. Malam itu, penjelajahan dunia maya berujung pada blognya teman-teman. Isinya bagus. Temanya tentang perkomputeran yang belum za tahu. Kesan yang membekas setelah itu: za harus belajar lebih banyak lagi nih..! :p

Dari pembawaan, gaya bicara, dan keseharian, za nggak menyangka kalau temen-temenku ini adalah orang-orang yang seneng baca buku-buku tebel. Pembawaan yang ringan, gaya yang cuek, nggak sombong (walau ada juga c kalau yang narsis mah :) but it’s no problem..) itu juga yang buat za kagum. Seperti menonton episode dalam peribahasa ‘air tenang menghanyutkan..’.

Dari sejak dulu, tepatnya mungkin SMA, senang rasanya ada di dekat orang-orang yang kalau bicara bercahaya. Tutur yang terucap dari mereka seperti pemantik bagi api semangat yang telah padam. Atau seperti benda yang biasa kau perlukan saat hapemu low-batt. Mungkin juga seperti lilin yang menyala saat listrik padam. Senang kan dekat-dekat sama lilin kalau lagi gelap? Atau seperti saat kau kelelahan dalam sebuah balapan lari, lalu tiba-tiba temanmu melesat mendahului, bukankah meski lelah kau bertekad untuk menghentak tubuh lebih cepat lagi?

Ucapan bercahaya itu tidak melulu tentang sesuatu dimana seseorang yang mengucapkannya akan dicitrakan sebagai seorang yang bijak. Tetapi juga mencakup keilmuan umum yang bisa membuat orang yang menyukai bidang ilmu itu merasa berdebar-debar. Berdebar karena luapan rasa ingin tahu, ingin lebih bisa, dan ingin lebih baik.

Terlebih jika itu diucapkan oleh orang yang tidak bermulut besar. Karena ada juga mungkin orang yang sebetulnya ucapannya baik, bagus dan bercahaya., tetapi karena seringnya berucap macam-macam, saat kata-kata bercahaya itu keluar orang tak menyadarinya. Kata-kata bercahaya itu telah melesat dengan kecepatan 300.000 km/jam. Cahayanya keburu pergi, terserap kata-kata yang lain.. (hehe..).

Alasan lainnya kenapa kata-kata bercahaya menjadi tak terindera adalah karena pengucapnya lupa sama petani, eh, sama ilmu padinya ding. Karena merasa pintar atau tahu banyak, malah jadi menyombongkan diri. Alhasil, orang-orang keburu pakai kacamata hitam kalau melihat dia, sehingga cahayanya jadi nggak ‘silau man..!’ lagi deh.. :p

Pengucap yang terindera cahayanya tidak bermulut besar. Mereka adalah orang-orang yang mungkin tahu banyak hal, bahkan mungkin menyadari kalau kemampuan mereka berada di atas rata-rata kawan mereka, tetapi tetap sederhana, nggak sombong, dan senantiasa bersedia membagi ilmu tanpa merasa lebih tahu. Sikap sederhana inilah juga yang membuat orang di dekatnya merasa aman, tenang, dan nyaman tanpa perlu merasa minder atau nggak se-level dengannya.

Bagian yang paling membuat za berdebar-debar saat membaca buku Laskar Pelanginya Andrea Hirata –yang diangkat dari kisah hidup penulisnya— adalah saat Ia bercerita tentang Lintang. (Tapi sepertinya bukan hanya za yang merasa demikian lo). Beberapa bait tulisannya yang bagus-bagus intinya masih za inget dikit-dikit. Bahwa orang cerdas seperti Ia, keunggulannya tidak membuat orang lain merasa terancam, kecemerlangannya tak menerbitkan iri dengki, kehebatannya tak mengisyaratkan sifat angkuh.

Ah, .. inginnya bisa jadi orang kayak gitu…

(070808,rum swit rum)

Satu Tanggapan to this post.

  1. Posted by Abu hafsh on 9 Juni 2009 at 22:05

    Seneng emg didekat org2 macam tu
    Pngen bs jd spt tu kpn y?ilmu ja pas2an :-P
    Intine falyaqul khairan au liyasmut!

Tanggapi posting ini