Catatan Keping Lensa

t.r.u.s.t

Posted by: blubukzz on: 29 Januari 2010

Depend on the lenses you use to see problem the problem would be seen. Sometimes things will getting harder just because different way of staring at problems. And sometimes, it can not be helped anymore. Hm, i ever think that it won’t happen on adults, percisely, on a mature person. But finally, i feel like  somehow it could also happen. even more likely to happen.

If you depart from different point of view, maybe it is harder to arrive at a same conclusion. And different conclusion sometimes lead to different ways to behave. And i was too naive to be sure that the different point of view won’t let you hurt anybody.

Well dunno why but conclusion that come to my head is that trust is an expensive thing on any kinda friendship… or.. relationship, in general. i’ve ever got a nice quotion,

“the best proof of love is trust”

that’s why it was said that a true friend is not someone who always be at your side and defend you even if you do something wrong, but rather someone that will tell your fault if you have something wrong. Coz they want you to change that failure, and believe that you are true kind person.

In my minor subject, there’s a theory of human development called psychosocial theory brought by Erik Erikson. The theory said that at the first stage of human development, precisely –if i’m not mistaken– at age 0-18 month, the baby is try to build trust to their new world. And trust is build with attachment, love, fulfillment of basic needs from family esp mom, the first person whom baby first interact with.   Wew, it turns out that trust is a very important thing indeed and –according to this theory– become one task among first tasks of motherhood.

Hm,, just want to take another view. Well, maybe trust is not static, it should be maintained by each other. when we feel like our friend’s trust is start to ruined little by little, maybe it is time to mirror, maybe we just done something that make them lose it. What if that doesn’t work… i mean, we are sure what we ‘ve done is not that bad.. and it is just a matter of point of view…. can we still trusting trust to become the answer…

***

just another blabla…. thx for commenting, if any…

sekedar cerita aja

Posted by: blubukzz on: 17 Januari 2010

Kemarin sewaktu ada kumpul adminQ, temenku cerita tentang sakitnya ia sehingga ga bisa ikut satu ujian di UAS.  Terus temenku yang lain nyeletuk gini kurang lebih

kalo ujian idup mah ga bisa ijin ya…

hemmm…. dah lama ga denger istilah ky gitu, berasa asing juga awalnya… dan cuma nyengir-nyengir… he….

tapi… jaman dahulu kala ada juga yang pernah bilang gitu, katanya,,, “ujian sekolah mah enak, waktunya ada jadwalnya, materinya ketahuan apa-apa aja, bisa disiapin dulu.. tapi,,, ujian idup… hemmmm… siapa yang tau… “

hohoho…. emang iya c, yang mungkin rada apes, kalo kedua ujian ini datengnya berbarengan,,

***

ky sekarang mungkin ya…. di akhir-akhir masa kuliah,, di mana semester depan udah ga ada kuliah apa2 lagi,,  di UAS yang terakhir… hemm… hasrat hati ingin ngasi yang terbaik, yang maksimal,,  pasti.. tapi,,, ya… siapa yang tau kalau ternyata di saat-saat ingin memberikan yang terbaik ini, ada sesuatu yang datang,he..

rasanya ingin jadi orang kuat, yang bisa menangkal segala bentuk beban pikiran dan nge-pending urusan pikiran itu sampe UAS selesai… tapi ternyata susah euy. he…. hyah, daripada terlalu banyak berharap, malah nambah beban pikiran dan bikin stres, iya ga… mungkin saya harus merelakan uas yang sekarang, mungkin saya harus memanjakan perasaan(hooo???) soalnya rasanya bner2 ga bisa diajak kompromi lagi.. ato mungkin kawan sekalian ada yang punya ide? biar tenang gitu.. he

***

jadi keinget perkataan seorang dosen, beliau malah melarang anak-anaknya untuk masuk sepuluh besar di sekolah (woot) he.. kenapa? hm, katanya,,, jgan sampe sekolah bikin anak-anak stres.. happiness, that’s also important. buat apa mereka masuk sepuluh besar, tapi stres,, dan kehilangan kebahagiaan? wheww… unique.. he. Mungkin maksudnya, biar passion buat belajar adalah karena mereka ingin tahu, bukan karena ‘ada keharusan’ untuk mendapat nilai besar dan rangking sepuluh besar.

Sampai sekarang, saya ga habis pikir, dan terus terkagum-kagum sama mereka yang punya stok kreativitas yang luar biasa. KEREN…. itu dalam benak saya. kalo saya perhatiin,, kebanyakan mereka adalah orang yang jarang stres,, bener-bener bisa nikmati hidup, mau lagi seneng, lagi susah, keliatannya ya santai aja gitu… hoooo…. pengen rasanya tanya ma mereka, gimana c caranya bisa kayak gitu.

dan jangan salah… mereka bukan orang-orang yang “keliatan santai aja”,, tapi sejauh yang saya amati banyak karya mereka yang mengundang decak kagum. Dan terkadang, akademiknya juga whewww…. ga kalah sama orang-orang yang keliatannya matutin buku terus..he

kalo nyambungin sama matkul minor, mungkin ini apa yang disebut keseimbangan otak kiri-otak kanan.  katanya, saat otak kanan (alias emosi) ngerasa senang, bahagia, santai,,, bisa nge-aktivin sistem limbik gitu deh (seinget za, he).. nah,,, karena teraktifkan ini, otak kiri (logic) malah lebih maknyus jalannya,,, lebih tokcer…. mungkin belajar malah jadi lebih cepet ngerti n bertahan lama… (jadi inget wasiat kuliah annum)

Nah, kebalikannya, saat emosi marah, merasa terancam, ketakutan, dan stres,, yang sangat aktif ketika ini adalah batang otak.  Batang otak ini sering juga disebut sebagai otak bertahan yang juga terdapat pada hewan.. hemm,,, kalo yang ini yang aktif, hmm… ya.. simpulin sendiri deh,he…

***

Itu aja cerita pagi ini.. doakan sy biar bisa dapet tenang itu ya..heuuu…. dan urusan ini segera selesai,, dan ujian kedua-duanya bisa dijalankan… dan bisa nerima apapun hasilnya nanti, dengan hati lapang.

:)

semangat

(meski bosen kali ya, kata-kata ini diulang2,, tapi bagi saya… saya merasa senang kalo dapet perkataan ky gini dari orang,,he :)  )

Canny Edge Detection

Posted by: blubukzz on: 5 Desember 2009

Halo, menyambung tulisan pekan lalu, masih tentang Edge Detection alias deteksi tepi pada citra.. Nah, sekarang dikenalkan algoritme deteksi tepi Canny… hem… apa bedanya? Mengapa Canny spesial? let’s see..

Um, inti yang za tangkep waktu kuliah si, pada algoritme deteksi tepi Canny ini dilakukan proses penipisan, sehingga edge yang dihasilkan kurang lebih seperti:

Tepi Hasil Deteksi Canny

Tepi Hasil Deteksi Canny

nah, lebih tipis kan?

gimana bisa? soalnya di deteksi tepi Canny ini setiap tepi/garis, direpresentasikan hanya oleh satu respon (piksel?).

***

sekian pengantarnya, berikut ini adalah tulisan yang di copas dari tugas.. hehe..

***
Algoritme deteksi tepi Canny dikenal sebagai algoritme yang optimal dalam melakukan pendeteksian tepi.  Untuk meningkatkan metode-metode yang telah ada dalam pendeteksian tepi, algortime deteksi tepi Canny mengikuti beberapa kriteria sebagai berikut:

  • Tingkat error yang rendah.  Error terjadi bila ada tepi yang penting tetapi tidak muncul, atau bila ada yang bukan tepi tetapi muncul.
  • Titik-titik pada tepi dilokasikan dengan benar.  Dengan kata lain, jarak antara piksel-piksel tepi yang ditemukan algoritme dengan tepi sesungguhnya diminimumkan.
  • Hanya satu respon (lebar 1 piksel) untuk setiap sebuah tepi.

Berdasarkan kriteria di atas, algoritme deteksi tepi Canny dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Pertama-tama dilakukan penghalusan (smoothing) citra untuk menghilangkan noise.  Contohnya menggunakan filtering dengan Gaussian Filter.
  2. Selanjutnya dicari gradient magnitude citra untuk melihat daerah-daerah yang memiliki turunan spasial yang tinggi.  Pencarian gradient magnitude seperti yang ditulis pada tulisan sebelumya, bisa pakai Sobel, Prewitt,, dll…
  3. Ditentukan arah dari tepi dengan menggunakan invers tangen dari gradient magnitude Y (Gy) dibagi gradient magnitude X (Gx).  Arah yang diperoleh dari perhitungan ini kemudian dipetakan ke 0, 45, 90, atau 135 derajat berdasarkan kedekatannya dengan keempat derajat arah tadi.
  4. Kemudian dilakukan Non Maximum Suppression. Yaitu, penghilangan  nilai-nilai yang tidak maksimum. Ditelusuri daerah yang ditemukan pada langkah 2 (dengan arah seperti yang ditemukan pada langkah 3), dan menghilangkan (suppress) setiap piksel yang tidak maksimum.
  5. Selanjutnya dilakukan Hysteresis (disebut juga Hysthresis), [for me maybe simply "double thresholding"].  Hysteresis menggunakan dua threshold T1 (threshold bawah) dan T2 (threshold atas).  Bila magnitude ada di bawah T1, titik tersebut di-set nol (dijadikan non-tepi). Bila magnitude ada di atas T2, maka termasuk tepi.  Bila magnitude ada diantara T1 dan T2, di-set nol kecuali jika ada jalan (path) dari titik tersebut ke titik yang memiliki magnitude di atas T2.
  6. ***

    sekian, semoga bermanfaat.

PPCD 9: Edge Detection (Deteksi Tepi)

Posted by: blubukzz on: 22 November 2009

Tujuannya..?

- memisahkan objek/foreground dari backgroundnya

- melakukan segmentasi (pemishan) setiap objek.  why we need it: untuk mengidentifikasi objek yang ada, dan nantinya kan bisa dipilih yang memang penting untuk pengolahan lebih lanjut

Deteksi Tepi Sobel Edge

Deteksi Tepi

Pengertian..?

- adalah operasi untuk mendeteksi garis tepi yang membatasi 2 wilayah

 

Gimana cara ngedeteksi itu?

Idenya dasarnya : pada dua wilayah yang berbeda, umumnya terdapat perubahan warna (yang direpresentasikan sebagai nilai dari piksel).  Maka, tepian objek adalah lokasi di mana terdapat intensitas perbedaan warna yang “cukup” drastis antar 2 piksel yang berdekatan.

 

“Cukup” drastis? seperti apa yang “cukup” drastis itu?..

Untuk menghitung “tingkat kedrastisan” perubahan warna itu, kita menggunakan suatu ukuran yang disebut Magnitude.  Semakin besar magnitude, semakin drastis perubahan warna yang terjadi.  Untuk menentukan apakah suatu piksel itu tepian atau bukan, kita menetapkan suatu batasan nilai (threshold) dari nilai magnitude-nya.  Setiap piksel yang magnitude-nya lebih besar (atau sama dengan? [please cek lagi]) threshold, berarti dia tepian, yang kurang dari threshold, berarti bukan tepian.

 

Langkah pendeteksian…

1. Um, pakai  filtering gitu,, jadi ada matriks konvolusi yang diterapkan ke citra. Matriks konvolusinya ini berbeda2 sesuai dengan algoritmenya.  nilai yang dihitung adalah nilai X dan Y (citra 2D), Mx adalah matriks konvolusi untuk X, sedangkan My matriks konvolusi untuk Y.

2. Hitung magnitude nya.  Magnitude adalah akar dari penjumlahan hasil penerapan matriks Mx kuadrat dan hasil penerapan matriks My kuadrat.

Ada beberapa algoritme dalam edge detection ini (yang matriks nya juga beda2).  Yang dijelaskan di kelas antara lain: Robert, Prewitt, dan Sobel.

1. Robert : matriks berukuran 2×2

Mx =  [1 0 ;  0 -1]      My = [0 -1; 1  0]   (titik koma berarti ganti baris)

2. Prewitt : matriks berukuran 3×3, elemen diagonal dengan elemen veritkal/horizontal diberi bobot yang sama (1 atau -1)

Mx = [-1 0 1; -1 0 1; -1 0 1]    My =[-1 -1 -1; 0 0 0 ; 1 1 1]

3. Sobel :   matriks berukuran 3×3, tapi elemen yang horizontal/vertikal, diberi bobot lebih besar (2 atau -2) dibandingkan dengan elemen diagonal (1 atau -1).

Mx = [-1 0 1; -2 0 2; -1 0 1]   My=[-1 -2 -1; 0 0 0; 1 2 1]

Di kuliah disebutkan kalau algoritme Sobel ini memberikan hasil yang lebih baik, mengapa bisa demikian? alasannya ternyata karena perbedaan pembobotan itu tadi.  Elemen horizontal/vertikal dari suatu piksel itu “lebih dekat” daripada elemen diagonalnya, karena itu dia dikasi bobot lebih besar daripada elemen diagonal.  ”Lebih dekat”, maksudnya? secara sederhana, seperti persegi gitu,, diagonalnya pasti lebih panjang daripada sisi-sisinya, seperti itulah..

Secara lebih kompleksnya, kalau tetangga horizontal dari piksel kan yang membedakan hanya nilai x-nya, sedangkan y-nya sama.  Gitu juga dengan tetangga vertikal dari piksel, nilai y-nya aja yang beda, tapi x-nya sama.  Sedangkan tetangga diagonal nilai x ataupun y nya beda. Oh iya, tetangga yang dimaksud, jaraknya hanya 1 piksel (di sekeliling) piksel itu.

 

Ada pertanyaan nih..

Misalnya ada sebuah citra, akan dideteksi tepiannya.  Diterapkan algoritme yang sama beberapa kali. Misalnya saja Prewitt. Nah, ternyata hasil yang diperoleh di berbeda, walaupun algoritmenya sama. Mengapa bisa demikian..?

 

 

Ya, benar..

jawabannya adalah karena kita menentukan threshold magnitude nya berbeda-beda sehingga piksel mana-mana aja yang termasuk edge akan berubah sesuai dengan thresholdnya.  So, penentuan threshold ini jadi hal yang penting.. Kalo terlalu besar thresholdnya,, nanti edge yang didapat terlalu sedikit, dan kalau threshold nya kekecilan,, nanti edge yang didapet terlalu banyak… Nah, threshold yang tepat segimana dong? Ini katanya dibahas pekan depan…

 

otreh, sekian.  Silakan merujuk ke sumber lainnya.. :D semangaat…

Let Me Introduce You

Posted by: blubukzz on: 15 November 2009

Someone i like.  Well, he is somehow a fictive figure, but i like the way he behave.

kyuu in Tantei Gakuen Q (Kamiki Ryunosuke)

Kyuu

hohoho.  Kyuu-kun za kenal di dorama Tantei Gakuen Q. Kesan yang pertama kali tentang orang ini: polos, ngehargain bener pertemanan, kepercayaan. hehe… dulu di diari (halah) za pernah nulis kayak gini tentang Kyuu,

Calm but still ‘alive’, nice, friendly, little naive, simple, confidence but not arrogant.  Smart of course (he is a tantei, afterall), but no “sotoy”. Has high appreciation on friendship, love, and trust, and believe in the good side of person.

 

besides, he is kawaii ne? hohoho ;P

Kyuu-kun diperankan oleh Kamiki Ryunosuke, n sidik selidik Kamiki Ryunosuke ternyata punya tanggal lahir yang sama dengan za (h0h0h0, gak penting banget infonya).

yupz,  cuma sharing aja. he… emang gak penting c. Tapi, kira-kira tipe orang kayak gini salah satu tipe yang menginspirasi buat za..

hm yaah… gimanapun, dia adalah figur yang fiktif.. he.. jadi ga usah cemburu yah, hehehehe

:D